Jumat, 28 Januari 2022

 

Perjuangan Fida

Oleh

Marwiyah

“Jadi ya umma, nanti kita jalan-jalan ke Jogya” Kalo nanti Fida selesai berobatnya. Naik kereta api kan umma,  yeay,  nanti Fida akan cerita ke teteh

 Sesaat setelah pesawat Garuda landing di Soekarno Hatta, Fida langsung berceloteh seolah ingin lebih memastikan lagi tentang keinginannya  Wajah Fida begitu sumringah dan terlihat sangat gembira setelah perempuan yang dipanggilnya umma itu mengangguk sambil tersenyum bahagia. Walaupun sekilas setelah wajah perempuan itu dipalingkan ke jendela terbersit guratan kesedihan.  Namun perempuan itu tidak ingin menampakkan kepada gadis kecilnya.

Fida adalah seorang gadis kecil yang cantik. Ya gadis kecil ini memang cantik, namun tidak secantik sebuah takdir yang harus dijalaninya. Fida harus menjalani beberapa kali operasi atas diagnosa hisprung dieses. Usus besar bagian bawah dekat anus tidak lagi bisa berfungsi dengan semestinya, sehingga terjadi kemacetan dalam proses bab. Operasi pertama sudah dijalani Fida. Anak kecil ini menjalaninya dengan tegar.  Walaupun setelah operasi pertama Fida harus menghadapi berbagai kendala, yang mengaharuskan bolak-balik ke Jakarta.

Hari ini Fida harus menjalani beberapa pemeriksaan guna persiapan operasi kembali.  Ini adalah operasi yang kedua. Spuling, cek darah lalu ronsen adalah rangkaian pemeriksaan yang harus dilalui sebelum pelaksanaan operasi penyambungan kembali usus.  Kini Fida menantikan saat-saat yang sangat ditunggu-tunggunya yakni disambungnya usus yang selama ini berada di luar di sebelah kanan perutnya. Fida sangat bersemangat karena dia ingin normal seperti dulu lagi.

“Fida gak boleh menyerah umma, Fida pengen sekolah lagi, bertemu dengan teman-teman Fida, jadi Fida harus kuat kan ma?” mata Fida menantap ummanya ingin minta diyakinkan kembali ucapan yang pernah disampaikan kepadanya. “kata umma semangat itu sudah menyembuhkan sakit kita iya kan umma?” seolah  Fida ingin meyakinkan diri juga menguatkan dirinya. 

“Iya sayang, dipeluknya gadis kecil sambil mengusap kepalanya. “Umma yakin Fida bisa melewati masa-masa sulit ini,  Fida sabbar ya sayang,  Allah memberikan ujian kepada Fida, insyaAllah karena Fida mampu menjalaninya, InsyaAllah.”

“Maafkan umma ya sayang, coba Fida lihat teman-teman Fida yang disamping kiri- kanan di ruang Widuri ini mereka lebih kecil usianya dari Fida tapi lihatlah seperti apa yang harus dijalani oleh mereka.  Sama dengan Fida mereka sedang berjuang semua,  mereka kuat semua kan Fida.”

“Iya umma, Fida mau belajar lebih kuat dan sabbar lagi umma”

 kembali dipeluknya gadis bungsunya, ada setitik air mata yang tak bisa ditahan keluar begitu saja namun cepat sekali dihapus oleh tangannya.

***

Ruang operasi khusus ibu dan anak RSHAB berada di lantai 2. Fida diantar oleh perawat dengan menggunakan kursi roda melewati lorong rummah sakit Ibu dan Anak Harapan Kita. Setelah melewati lorong khusus untuk pasien yang akan dioperasi sampailah di ruangan persiapan operasi. Suhu udara yang dingin langsung menyergap tubuh  memasuki ruangan ini. Beberapa tempat tidur berjajar untuk pasien yang akan menjalani operasi. Disini ada beberapa pasien yang akan menjalani operasi, namun operasi yang akan dilakukan bukanlah operasi besar seperti yang akan dijalani Fida.

Abba dan Umma Fida berjalan memasuki ruangan ini sambil menata hati masing-masing. Ada harapan kesembuhan untuk Fida, namun ada pula kekhawatiran mengingat operasi yang akan dijalani Fida termasuk operasi besar, maka pertaruhannya adalah nyawa. Namun  Keyakinan akan senantiasa ada pertolongan Allah selalu digantungkan oleh kedua orang tua ini.  Fida pun terlihat tenang,  tak sedikitpun memperlihatkan kekhawatirannya bahwa dia akan menjalani operasi dengan pertaruhan hidupnya. Gadis kecil itu sangat optimis bahwa ia akan sembuh. Sehingga tak ada keraguan dalam diri anak kecil ini. Bahkan Ia selalu tersenyum kepada orang-orang di sekitarnya. Disampingnya  ada abba dan Umma yang selalu menguatkan. Kedua tuanya ini pulalah yang membuat Fida menjadi kuat dan tidak cengeng. Fida tidak pernah melihat air mata menetes dipipi kedua orang tuanya ini, walaupun dia melihat suatu perbedaan ketika ada pasien lain yang orang tuanya tidak berhenti menitikkan airmata disaat menyaksikan anaknya akan menuju meja operasi. Hal ini tidak mempengaruhi Fida ikut larut dalam kesedihan.

“ Ini pasien atas nama Fida sus, dari ruang Widuri”

“Dokumennya ini, Fida akan menajalani operasi penyambungan kemballi usus. Selama ini terpasang kantong kolostomi di dinding perut sebelah kanan. “Ini, sus” bu Evi menujukkan bagian perut sebelah kanan Fida. Terakhir spuling dilakukan pukul 6 pagi dan pasien sudah tidak makan dan minum sejak pukul 4 pagi. Kantong darah disiapkan 2 kantong, untuk cadangan sudah ada. Lanjut bu Evi memberikan penjelasan.

 Dialog antara perawat ruang widuri dan suster perawat ruang operasi yang akan menangani operasi Fida berlangsung  kurang lebih tiga menit. Tim  memeriksa dokumen, menanyakan hal-hal kesiapan operasi.

Akhirnya abba dan umma dipangggil oleh dokter anestesi dan diberi penjelasan bahwa pasien yang akan masuk ke ruang operasi akan diberikan suntikan efek tidur, agar pasien tidak takut ketika berada di ruang operasi  Setelah meminta izin untuk memberikan suntikan kepada kedua orang tua Fida, belum sampai hitungan ke 10  Fida sudah tertidur.  Hati umma dan Abba Fida begitu pilu melihat Fida sudah tidur tak berdaya, dengan mata berkaca-kaca kedua orang tua Fida membacakan ayat-ayat alquran di telinga Fida sampai akhirnya Fida dibawa ke ruang operasi.

Ini kedua kalinya  kedua orang tua Fida duduk menunggu. Ruang ini menjadi saksi kegelisahan hati orang-orang yang sedang menjalani takdir hidupnya. Menunggu sebuah ketentuan dari Allah atas takdir baik atau takdir buruk. Seperti seorang yang sedang terhukum itulah yang dirasakan kedua orang tua Fida, Lisan kedua orang tua ini tak hentinya berzikir dan memohon doa. Semua hening, semua yang ada di ruang tunggu ini sibuk dengan pikiran masing-masing. Di ruang tunggu ini ada juga beberapa keluarga pasien yang menunggu keluarganya yang menjalani operasi. Walaupun mereka berusaha santai tidak ingin menunjukkan wajah ketegangan, namun tak bisa ditampikkan mereka sebenarnya gelisah menunggu sebuah takdir ketentuan dari Allah atas nasib orang-orang yang mereka cintai. Di sudut ruang tunggu ini dekat ruangan pengambilan obat,  Ada juga yang menangis tidak mampu menahan gejolak emosi dalam dada.

Operasi berjalan kurang lebih 4 jam. 2 jam lebih lama dibandingkan operasi pertama dulu. Dokter Alex memanggil ibu Fida. Ibu ini adalah seorang guru yang terpaksa harus meninggalkan anak didiknya demi anak kandungnya sendiri. Ibu ini tidak ada keinginan untuk mengabbaikan tugasnya, namun buah hatinya kini membutuhkan dirinya. Terpaksa tugasnya mengajar dilimpahkan kepada orang lain untuk sementara waktu.

            “ Bu Wirna, operasi berjalan lancar, Fida sudah tidak pakai kantong lagi. Setelah ini Fida akan langsung di bawa ke ruang perawatan kembali di ruang Widuri, namun sebelumnya Fida istirhat sebentar di ruang pemulihan sambil melihat apakah kondisi Fida stabil pasca operasi tadi, Silakan ibu kembali ke ruang tunggu, nanti akan dipanggil oleh perawat.” Dokter Alex memberikan penjelasan kepada bu Wirna.

“Terimakasih  dokter” terdengar gemetar suara bu Wirna hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulut bu Wirna.

Setelah dokter pergi meninggalkan ruangan tempat konsultasi pasien operasi, bu Wirna langsung  sujud syukur atas kebaikan dan kasih sayang Allah kepadanya. Tak bisa dilukiskan begitu besar kebahagiaan Bu Wirna segera Ia kabbarkan di grup keluarga bahwa Fida sudah selesai operasi dan operasi berjalan dengan lancar. Dan saat ini Fida dalam keadaan baik. Keinginan Fida yang mau naik kereta api akan segera terwujud, Bu Wirna ingin sekali membahagiakan Fida karena dengan kondisi sakitnya Fida selama beberapa tahun ini tidak bisa kemana-mana.

***

Hari kedua pasca operasi  bu Wirna melihat perubahan yang tidak seperti yang diharapkan. Keceriaan wajah pasca operasi seperti yang dibayangkan sebelumnya tidak terpancar diwajah Fida. Fida lebih banyak diam dan tangan kanannya sering memegang perut sebelah kanan atas namun sedikitpun tidak ada yang terucap dari bibirnya tentang apa yang Ia rasakan.

“Kenapa nak?, perut Fida sakit? Tanya umma ke Fida. Fida mengangguk. Ternyata Fida memang sedang kesakitan.

“Ya Allah, ada apa ini? Wajah bu Wirna langsung berubah ada rasa kekahawatiran yang begitu besar. Ini tidak wajar, Fida seharusnya lebih baik. Kecurigaan merebak dalam pikiran Umma dan abba Fida. Seandainya saja dokter selalu ada di ruang perawatan sudah pasti akan segera ditemui oleh bu Wirna untuk menanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi pada anaknya. Namun dokter hanya datang pada saat jadwal visitnya saja. Bu Wirna mencoba menenangkan diri, mengendalikan emosi dan berusaha sabar di hadapan gadis kecilnya

Tak sabar menunggu waktu berkunjung dokter. Bu Wirna sangat gelisah, ingin sekali diputarnya jarum jam agar waktu lebih cepat berjalan dan bisa segera bertemu dengan dokter Alex. Namun Alllah menguji kesabaran bu Wirna dan suaminya,  dokter Alex visit terlambat dari waktu yang biasanya.

Dokter Alex yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di ruangan widuri 104. Segera bu Wirna menyampaikan apa yang terjadi pada anaknya,  Berbeda dengan bu Wirna yang terlihat panik, dokter Alex menjawab dengan tenang semua pertanyaan yang disampaikan oleh bu Wirna.  Dokter Alex menyuruh perawat untuk mengambil sampel darah Fida agar diperiksa lebih lanjut.

“Ibu, kita masih menunggu perkembangannya dan Fida harus buka puasa terlebih dahulu, sambil kita menunggu hasil pemeriksaan laboratorium”. Ibu bersabar dulu ya. Bila ada hal-hal buruk segera hubungi perawat ya bu”. Dokter Alex memberikan penegasan.

Sejak saat itu, hari-hari dilalui dengan penuh kecemasan, kebimbangan apalagi kondisi Fida semakin memburuk. Suhu badan fida naik, urine yang mengalir dari selang keteter berjalan pelan semakin lama semakin lambat. Perut Fida semakin hari terlihat semakin meninggi. Namun Fida masih berusaha untuk bersabar sampai saatnya berbuka.

Fida sebenarnya sangat menunggu saatnya berbuka pasca operasi. Fida sudah menuliskan daftar menu yang ingin dia santap pasca operasi. Umma hanya tersenyum saat membaca daftar menu yang disodorkan Fida memalui sebuah buku yang dibeli di sebuah mini market tak jauh dari kosan kedua orang tuanya, disitu tertera 20 jenis makanan yang diidamkan Fida.  Namun setelah tiba waktu berbuka puasa wajahnya tidak gembira. Fida hanya menelpon abba yang sedang berada dikosan mengabarkan bahwa dianya sudah boleh makan. Itu saja, tidak ada permintaan makanan apapun dari Fida. Wajah bu Wirna nelangsa memandang wajah anaknya, tak ada gairah terpancar dari sorot mata Fida.

Pada hari ke 6 pasca operasi disampaikan oleh dokter Alex bahwa ada tiga kemungkinan yang terjadi pada Fida yang pertama perdarahan, kedua perlengketan dan yang ketiga kebocoran. Fida harus segera menjalani operasi kembali. Bagai di sambar petir di tengah hari bu Wirna mendengar penjelasan  itu. Padahal Fida dalam kondisi lemah dan semakin hari tidak berdaya nafas Fida saat ini sudah tersengal-sengal dan berjalan lebih cepat.

“Dok kalau memang itu yang terbaik segera dok, anak saya sudah lemah sekali. Tak kuasa dibendung air mata bu Wirna memohon kepada dokter Alex.

“Ya bu, besok kita pastikan kembali, untuk kondisi Fida ini kita butuh ruangan ICU, ibu sabar ya. Mudah-mudahan besok sudah ada ruangan ICU yang siap.

Bu Wirna sudah tidak tau lagi Kapan waktu pagi, siang maupun sore. Yang ada dalam pikirannya Fida harus segera mendapat pertolongan. Tak dipedulikan lagi oleh bu Wirna kondisi dirinya sendiri. Ketegangan terus menyelimuti dirinya detik demi detik, menit demi menit Jam demi jam. Seakan dirinya sedang mendaki sebuah tebing yang tinggi menunggu waktu saatnya diambil tindakan kembali pada  anaknya.  

Akhirnya tibalah waktunya Fida dioperasi kembali.

Dengan langkah  tergesa-gesa dokter Alex masuk ke kamar widuri tempat Fida di rawat. Sedangkan Fida terbaring semakin lemah,  matanya sangat sayu seolah hendak menutup. Nafasnya bertambah cepat ritmenya dan Fida sudah tidak bisa bicara. Fida sudah terlalu lemah  hanya matanya saja yang menyiratkan dia ingin segera ditolong.

            “Bu, segera bersiap-siap Fida hari ini operasi kembali” terlihat wajah dokter Alex menunjukkan ketegangan. Tak biasanya dokter itu seperti terburu-buru. Diperintahkannya para perawat untuk segera membawa Fida ke ruang operasi dan meminta bu Wirna mengemas barang-barangnya karena setelah ini Fida akan di tempatkan di ICU. Bu Wirna hanya pasrah.

            Semua persiapan dilakukan dengan cepat. Terlihat wajah para perawat seperti ikut merasakan kecemasan atas kondisi Fida saat ini. Mereka sangat berempati atas kondisi Fida dengan memberikan semangat kepada bu Wirna dan suaminya.

            “Bunda sabar ya, dokter Alex akan mengupayakan agar Fida bisa kembali pulih. Bunda banyak-banyak berdoa supaya keadaan Fida lebih baik lagi.

            “Terimakasih sus, mohon terus doakan Fida, sambil terbata suara bu Wirna tertahan karena tangis yang sudah tak dapat lagi dibendungnya. “Iya bunda, bunda yang sabar ya” dipeluknya bu Wirna. “Semoga kita ketemu lagi di ruang Widuri ini pasca operasi Fida selamat dan akan kembali disini untuk memulihkannnya”. “aamiin” bu Wirna dan suaminya mengaminkan doa dari suster Kesih.

Setelah Fida mendapat penanganan, Bu Wirna langsung menuju musala yang berada di sebelah ruang ICU. Diambilnya air wudhu lalu segera Ia tunaikan  shalat dhuha.  Bu Wirna tergugu menangis di hadapan Allah mencurahkan semua persaannya, setelah itu dia merenung lama merefleksi diri sampai akhirnya dirasakan oleh bu Wirna tangan yang kokoh menyentuh lembut pundaknya.

            Umma, “

            Seorang lelaki gagah yang menjadi pendamping hidupnya selama ini sudah berada di belakangnya. Langsung dipeluknya seraya mencari kekuatan di dada laki-laki itu. Laki-laki itu begitu memahami apa yang diinginkan perempuan yang sangat dikasihinya. Dipeluknya kuat, dibiarkannya perempuan menumpahkan tangisnya sampai puas.

Abba, Fida sudah sangat lemah, umma tidak tega melihatnya, berat sekali perjuaangan Fida.” Bu Wirna mengungkapkan isi perasaaannya sambil  tergugu..

Umma, ini ujian kita, Kita harus kuat. Semua sudah takdir-Nya,  Semua sudah skenario Allah. Ridholah dengan ketentuan Allah semoga dengan Ridhonya kita menjadi jalan keselamatan untuk anak kita, umma.”

 ***

            Fida kembali menjalani operasi, 7 hari pasca operasi penyambungan usus. Luka bekas penutupan kolostomi belum lagi kering, saat ini dilakukan kembali pembedahan di bawah dada untuk menangani infeksi yang terjadi. Selanjutnya dokter melakukan kembali ilostomi yakni membuat jalan keluar feses di sebelah kiri guna menghentikan arus infeksi di ususnya. Ini berarti Fida masih harus menjalani hari-hari dengan kantong kolostomi di sebelah kiri perutnya

            Fida dinyatakan kritis Oleh dokter Alex. Nafas Fida 100 persen dibantu oleh ventilator.  Bu Wirna tercenung dan  tidak mampu berkata apa-apa. Masih terbayang di benak Bu Wirna perjuangan Fida pasca operasi pertama dulupun Fida mengalami kendala, usus Fida Proplaps, usus yang akan dipotong keluar dan menggantung di dinding perutnya. Selama kurang lebih 6 bulan Fida menjalani aktivitas sehari-hari dengan kondisi usus menggantung di luar perut. Fida menjadi tidak nyaman dan tidak bisa ke sekolah, bermain, belajar seperti teman-temannya yang lain.

Bu Wirna tidak bisa menangis lagi. Ia dan suaminya saat itu berada dalam puncak kepasrahan kepada Allah. Tidak ada tempat bergantung lagi. Bukan kepada dokter Alex, bukan kepada perawat-perawat yang luar biiasa dedikasinya selama merawat Fida. Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menjadi sandaran lagi bagi bu Wirna dan suaminya selain hanya kepada Allah saja.

* * *

Bengkulu, Desember 2021

  Perjuangan Fida Oleh Marwiyah “Jadi ya umma, nanti kita jalan-jalan ke Jogya” Kalo nanti Fida selesai berobatnya. Naik kereta api ka...