Perjuangan Fida
Oleh
Marwiyah
“Jadi ya umma,
nanti kita jalan-jalan ke Jogya” Kalo nanti Fida selesai berobatnya. Naik
kereta api kan umma, yeay,
nanti Fida akan cerita ke teteh”
Sesaat setelah pesawat Garuda landing di
Soekarno Hatta, Fida langsung berceloteh seolah ingin lebih memastikan lagi
tentang keinginannya Wajah Fida begitu
sumringah dan terlihat sangat gembira setelah perempuan yang dipanggilnya umma
itu mengangguk sambil tersenyum bahagia. Walaupun sekilas setelah wajah
perempuan itu dipalingkan ke jendela terbersit guratan kesedihan. Namun perempuan itu tidak ingin menampakkan
kepada gadis kecilnya.
Fida adalah
seorang gadis kecil yang cantik. Ya gadis kecil ini memang cantik, namun tidak
secantik sebuah takdir yang harus dijalaninya. Fida harus menjalani beberapa
kali operasi atas diagnosa hisprung
dieses. Usus besar bagian bawah dekat anus tidak lagi bisa berfungsi dengan
semestinya, sehingga terjadi kemacetan dalam proses bab. Operasi pertama sudah
dijalani Fida. Anak kecil ini menjalaninya dengan tegar. Walaupun setelah operasi pertama Fida harus
menghadapi berbagai kendala, yang mengaharuskan bolak-balik ke Jakarta.
Hari ini Fida
harus menjalani beberapa pemeriksaan guna persiapan operasi kembali. Ini adalah operasi yang kedua. Spuling, cek darah lalu ronsen adalah
rangkaian pemeriksaan yang harus dilalui sebelum pelaksanaan operasi
penyambungan kembali usus. Kini Fida
menantikan saat-saat yang sangat ditunggu-tunggunya yakni disambungnya usus
yang selama ini berada di luar di sebelah kanan perutnya. Fida sangat
bersemangat karena dia ingin normal seperti dulu lagi.
“Fida gak boleh menyerah umma, Fida pengen sekolah lagi,
bertemu dengan teman-teman Fida, jadi Fida harus kuat kan ma?” mata Fida
menantap ummanya ingin minta diyakinkan kembali ucapan yang pernah disampaikan
kepadanya. “kata umma semangat itu sudah menyembuhkan sakit kita iya kan umma?”
seolah Fida ingin meyakinkan diri juga
menguatkan dirinya.
“Iya
sayang, dipeluknya gadis kecil sambil mengusap kepalanya. “Umma yakin Fida bisa
melewati masa-masa sulit ini, Fida sabbar
ya sayang, Allah memberikan ujian kepada
Fida, insyaAllah karena Fida mampu menjalaninya, InsyaAllah.”
“Maafkan
umma ya sayang, coba Fida lihat teman-teman Fida yang disamping kiri- kanan di
ruang Widuri ini mereka lebih kecil usianya dari Fida tapi lihatlah seperti apa
yang harus dijalani oleh mereka. Sama
dengan Fida mereka sedang berjuang semua,
mereka kuat semua kan Fida.”
“Iya umma, Fida
mau belajar lebih kuat dan sabbar lagi umma”
kembali dipeluknya gadis bungsunya, ada
setitik air mata yang tak bisa ditahan keluar begitu saja namun cepat sekali
dihapus oleh tangannya.
***
Ruang operasi
khusus ibu dan anak RSHAB berada di lantai 2. Fida diantar oleh perawat dengan
menggunakan kursi roda melewati lorong rummah sakit Ibu dan Anak Harapan Kita.
Setelah melewati lorong khusus untuk pasien yang akan dioperasi sampailah di
ruangan persiapan operasi. Suhu udara yang dingin langsung menyergap tubuh memasuki ruangan ini. Beberapa tempat tidur
berjajar untuk pasien yang akan menjalani operasi. Disini ada beberapa pasien
yang akan menjalani operasi, namun operasi yang akan dilakukan bukanlah operasi
besar seperti yang akan dijalani Fida.
Abba dan Umma
Fida berjalan memasuki ruangan ini sambil menata hati masing-masing. Ada
harapan kesembuhan untuk Fida, namun ada pula kekhawatiran mengingat operasi
yang akan dijalani Fida termasuk operasi besar, maka pertaruhannya adalah
nyawa. Namun Keyakinan akan senantiasa
ada pertolongan Allah selalu digantungkan oleh kedua orang tua ini. Fida pun terlihat tenang, tak sedikitpun memperlihatkan kekhawatirannya
bahwa dia akan menjalani operasi dengan pertaruhan hidupnya. Gadis kecil itu
sangat optimis bahwa ia akan sembuh. Sehingga tak ada keraguan dalam diri anak
kecil ini. Bahkan Ia selalu tersenyum kepada orang-orang di sekitarnya.
Disampingnya ada abba dan Umma yang
selalu menguatkan. Kedua tuanya ini pulalah yang membuat Fida menjadi kuat dan
tidak cengeng. Fida tidak pernah melihat air mata menetes dipipi kedua orang
tuanya ini, walaupun dia melihat suatu perbedaan ketika ada pasien lain yang
orang tuanya tidak berhenti menitikkan airmata disaat menyaksikan anaknya akan
menuju meja operasi. Hal ini tidak mempengaruhi Fida ikut larut dalam
kesedihan.
“ Ini pasien
atas nama Fida sus, dari ruang Widuri”
“Dokumennya
ini, Fida akan menajalani operasi penyambungan kemballi usus. Selama ini
terpasang kantong kolostomi di
dinding perut sebelah kanan. “Ini, sus” bu Evi menujukkan bagian perut sebelah
kanan Fida. Terakhir spuling
dilakukan pukul 6 pagi dan pasien sudah tidak makan dan minum sejak pukul 4
pagi. Kantong darah disiapkan 2 kantong, untuk cadangan sudah ada. Lanjut bu
Evi memberikan penjelasan.
Dialog antara perawat ruang widuri dan suster
perawat ruang operasi yang akan menangani operasi Fida berlangsung kurang lebih tiga menit. Tim memeriksa dokumen, menanyakan hal-hal kesiapan
operasi.
Akhirnya abba
dan umma dipangggil oleh dokter anestesi dan diberi penjelasan bahwa pasien
yang akan masuk ke ruang operasi akan diberikan suntikan efek tidur, agar
pasien tidak takut ketika berada di ruang operasi Setelah meminta izin untuk memberikan
suntikan kepada kedua orang tua Fida, belum sampai hitungan ke 10 Fida sudah tertidur. Hati umma dan Abba Fida begitu pilu melihat
Fida sudah tidur tak berdaya, dengan mata berkaca-kaca kedua orang tua Fida
membacakan ayat-ayat alquran di telinga Fida sampai akhirnya Fida dibawa ke
ruang operasi.
Ini kedua
kalinya kedua orang tua Fida duduk
menunggu. Ruang ini menjadi saksi kegelisahan hati orang-orang yang sedang
menjalani takdir hidupnya. Menunggu sebuah ketentuan dari Allah atas takdir baik
atau takdir buruk. Seperti seorang yang sedang terhukum itulah yang dirasakan
kedua orang tua Fida, Lisan kedua orang tua ini tak hentinya berzikir dan
memohon doa. Semua hening, semua yang ada di ruang tunggu ini sibuk dengan
pikiran masing-masing. Di ruang tunggu ini ada juga beberapa keluarga pasien
yang menunggu keluarganya yang menjalani operasi. Walaupun mereka berusaha
santai tidak ingin menunjukkan wajah ketegangan, namun tak bisa ditampikkan
mereka sebenarnya gelisah menunggu sebuah takdir ketentuan dari Allah atas
nasib orang-orang yang mereka cintai. Di sudut ruang tunggu ini dekat ruangan
pengambilan obat, Ada juga yang menangis
tidak mampu menahan gejolak emosi dalam dada.
Operasi
berjalan kurang lebih 4 jam. 2 jam lebih lama dibandingkan operasi pertama
dulu. Dokter Alex memanggil ibu Fida. Ibu ini adalah seorang guru yang terpaksa
harus meninggalkan anak didiknya demi anak kandungnya sendiri. Ibu ini tidak
ada keinginan untuk mengabbaikan tugasnya, namun buah hatinya kini membutuhkan
dirinya. Terpaksa tugasnya mengajar dilimpahkan kepada orang lain untuk
sementara waktu.
“
Bu Wirna, operasi berjalan lancar, Fida sudah tidak pakai kantong lagi. Setelah
ini Fida akan langsung di bawa ke ruang perawatan kembali di ruang Widuri,
namun sebelumnya Fida istirhat sebentar di ruang pemulihan sambil melihat
apakah kondisi Fida stabil pasca operasi tadi, Silakan ibu kembali ke ruang
tunggu, nanti akan dipanggil oleh perawat.” Dokter Alex memberikan penjelasan
kepada bu Wirna.
“Terimakasih dokter” terdengar gemetar suara bu Wirna
hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulut bu Wirna.
Setelah dokter
pergi meninggalkan ruangan tempat konsultasi pasien operasi, bu Wirna
langsung sujud syukur atas kebaikan dan
kasih sayang Allah kepadanya. Tak bisa dilukiskan begitu besar kebahagiaan Bu
Wirna segera Ia kabbarkan di grup keluarga bahwa Fida sudah selesai operasi dan
operasi berjalan dengan lancar. Dan saat ini Fida dalam keadaan baik. Keinginan
Fida yang mau naik kereta api akan segera terwujud, Bu Wirna ingin sekali
membahagiakan Fida karena dengan kondisi sakitnya Fida selama beberapa tahun
ini tidak bisa kemana-mana.
***
Hari kedua
pasca operasi bu Wirna melihat perubahan
yang tidak seperti yang diharapkan. Keceriaan wajah pasca operasi seperti yang
dibayangkan sebelumnya tidak terpancar diwajah Fida. Fida lebih banyak diam dan
tangan kanannya sering memegang perut sebelah kanan atas namun sedikitpun tidak
ada yang terucap dari bibirnya tentang apa yang Ia rasakan.
“Kenapa nak?,
perut Fida sakit? Tanya umma ke Fida. Fida mengangguk. Ternyata Fida memang
sedang kesakitan.
“Ya Allah, ada
apa ini? Wajah bu Wirna langsung berubah ada rasa kekahawatiran yang begitu
besar. Ini tidak wajar, Fida seharusnya lebih baik. Kecurigaan merebak dalam
pikiran Umma dan abba Fida. Seandainya saja dokter selalu ada di ruang
perawatan sudah pasti akan segera ditemui oleh bu Wirna untuk menanyakan
sebenarnya apa yang sedang terjadi pada anaknya. Namun dokter hanya datang pada
saat jadwal visitnya saja. Bu Wirna mencoba menenangkan diri, mengendalikan
emosi dan berusaha sabar di hadapan gadis kecilnya
Tak sabar
menunggu waktu berkunjung dokter. Bu Wirna sangat gelisah, ingin sekali
diputarnya jarum jam agar waktu lebih cepat berjalan dan bisa segera bertemu
dengan dokter Alex. Namun Alllah menguji kesabaran bu Wirna dan suaminya, dokter Alex visit terlambat dari waktu yang
biasanya.
Dokter Alex
yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di ruangan widuri 104. Segera bu Wirna
menyampaikan apa yang terjadi pada anaknya,
Berbeda dengan bu Wirna yang terlihat panik, dokter Alex menjawab dengan
tenang semua pertanyaan yang disampaikan oleh bu Wirna. Dokter Alex menyuruh perawat untuk mengambil
sampel darah Fida agar diperiksa lebih lanjut.
“Ibu, kita
masih menunggu perkembangannya dan Fida harus buka puasa terlebih dahulu,
sambil kita menunggu hasil pemeriksaan laboratorium”. Ibu bersabar dulu ya.
Bila ada hal-hal buruk segera hubungi perawat ya bu”. Dokter Alex memberikan
penegasan.
Sejak saat itu,
hari-hari dilalui dengan penuh kecemasan, kebimbangan apalagi kondisi Fida
semakin memburuk. Suhu badan fida naik, urine yang mengalir dari selang keteter
berjalan pelan semakin lama semakin lambat. Perut Fida semakin hari terlihat
semakin meninggi. Namun Fida masih berusaha untuk bersabar sampai saatnya
berbuka.
Fida sebenarnya
sangat menunggu saatnya berbuka pasca operasi. Fida sudah menuliskan daftar
menu yang ingin dia santap pasca operasi. Umma hanya tersenyum saat membaca
daftar menu yang disodorkan Fida memalui sebuah buku yang dibeli di sebuah mini
market tak jauh dari kosan kedua orang tuanya, disitu tertera 20 jenis makanan
yang diidamkan Fida. Namun setelah tiba
waktu berbuka puasa wajahnya tidak gembira. Fida hanya menelpon abba yang
sedang berada dikosan mengabarkan bahwa dianya sudah boleh makan. Itu saja,
tidak ada permintaan makanan apapun dari Fida. Wajah bu Wirna nelangsa
memandang wajah anaknya, tak ada gairah terpancar dari sorot mata Fida.
Pada hari ke 6
pasca operasi disampaikan oleh dokter Alex bahwa ada tiga kemungkinan yang
terjadi pada Fida yang pertama perdarahan, kedua perlengketan dan yang ketiga
kebocoran. Fida harus segera menjalani operasi kembali. Bagai di sambar petir
di tengah hari bu Wirna mendengar penjelasan itu. Padahal Fida
dalam kondisi lemah dan semakin hari tidak berdaya nafas Fida saat ini sudah
tersengal-sengal dan berjalan lebih cepat.
“Dok kalau
memang itu yang terbaik segera dok, anak saya sudah lemah sekali. Tak kuasa
dibendung air mata bu Wirna memohon kepada dokter Alex.
“Ya bu, besok
kita pastikan kembali, untuk kondisi Fida ini kita butuh ruangan ICU, ibu sabar ya. Mudah-mudahan besok
sudah ada ruangan ICU yang siap.
Bu Wirna sudah
tidak tau lagi Kapan waktu pagi, siang maupun sore. Yang ada dalam pikirannya
Fida harus segera mendapat pertolongan. Tak dipedulikan lagi oleh bu Wirna
kondisi dirinya sendiri. Ketegangan terus menyelimuti dirinya detik demi detik,
menit demi menit Jam demi jam. Seakan dirinya sedang mendaki sebuah tebing yang
tinggi menunggu waktu saatnya diambil tindakan kembali pada anaknya.
Akhirnya tibalah waktunya
Fida dioperasi kembali.
Dengan
langkah tergesa-gesa dokter Alex masuk
ke kamar widuri tempat Fida di rawat. Sedangkan Fida terbaring semakin
lemah, matanya sangat sayu seolah hendak
menutup. Nafasnya bertambah cepat ritmenya dan Fida sudah tidak bisa bicara.
Fida sudah terlalu lemah hanya matanya
saja yang menyiratkan dia ingin segera ditolong.
“Bu,
segera bersiap-siap Fida hari ini operasi kembali” terlihat wajah dokter Alex
menunjukkan ketegangan. Tak biasanya dokter itu seperti terburu-buru.
Diperintahkannya para perawat untuk segera membawa Fida ke ruang operasi dan
meminta bu Wirna mengemas barang-barangnya karena setelah ini Fida akan di
tempatkan di ICU. Bu Wirna hanya
pasrah.
Semua persiapan dilakukan dengan cepat. Terlihat wajah
para perawat seperti ikut merasakan kecemasan atas kondisi Fida saat ini.
Mereka sangat berempati atas kondisi Fida dengan memberikan semangat kepada bu
Wirna dan suaminya.
“Bunda sabar ya, dokter Alex akan mengupayakan agar Fida bisa
kembali pulih. Bunda banyak-banyak berdoa supaya keadaan Fida lebih baik lagi.
“Terimakasih sus, mohon terus doakan Fida, sambil terbata
suara bu Wirna tertahan karena tangis yang sudah tak dapat lagi dibendungnya.
“Iya bunda, bunda yang sabar ya” dipeluknya bu Wirna. “Semoga kita ketemu lagi
di ruang Widuri ini
pasca operasi Fida selamat dan akan kembali disini untuk memulihkannnya”.
“aamiin” bu Wirna dan suaminya mengaminkan doa dari suster Kesih.
Setelah
Fida mendapat penanganan, Bu
Wirna langsung menuju musala yang berada di sebelah ruang ICU. Diambilnya air
wudhu lalu segera Ia tunaikan shalat dhuha. Bu
Wirna tergugu menangis di hadapan Allah mencurahkan semua persaannya, setelah
itu dia merenung lama merefleksi diri sampai akhirnya dirasakan oleh bu Wirna
tangan yang kokoh menyentuh lembut pundaknya.
“Umma,
“
Seorang lelaki gagah yang menjadi pendamping hidupnya
selama ini sudah berada di belakangnya. Langsung dipeluknya seraya mencari
kekuatan di dada laki-laki itu. Laki-laki itu begitu memahami apa yang
diinginkan perempuan yang sangat dikasihinya. Dipeluknya kuat, dibiarkannya
perempuan menumpahkan tangisnya sampai puas.
“Abba, Fida sudah sangat lemah, umma tidak tega melihatnya, berat sekali perjuaangan
Fida.” Bu Wirna mengungkapkan isi perasaaannya sambil tergugu..
Umma,
ini ujian
kita, Kita harus kuat. Semua sudah takdir-Nya,
Semua
sudah skenario Allah. Ridholah dengan ketentuan Allah semoga dengan Ridhonya
kita menjadi jalan keselamatan untuk anak kita, umma.”
Fida
kembali menjalani operasi, 7 hari pasca operasi penyambungan usus. Luka bekas
penutupan kolostomi belum lagi
kering, saat ini dilakukan kembali pembedahan di bawah dada untuk menangani
infeksi yang terjadi. Selanjutnya dokter melakukan kembali ilostomi yakni membuat jalan keluar feses di sebelah kiri guna
menghentikan arus infeksi di ususnya. Ini berarti Fida masih harus menjalani hari-hari dengan
kantong kolostomi di sebelah kiri
perutnya
Fida dinyatakan kritis Oleh dokter
Alex. Nafas
Fida 100 persen dibantu oleh ventilator.
Bu Wirna tercenung dan tidak mampu
berkata apa-apa. Masih
terbayang di benak Bu Wirna perjuangan Fida pasca operasi pertama dulupun Fida
mengalami kendala, usus Fida Proplaps,
usus yang akan dipotong keluar dan menggantung di dinding perutnya. Selama
kurang lebih 6 bulan Fida menjalani aktivitas sehari-hari dengan kondisi usus
menggantung di luar perut. Fida menjadi tidak nyaman dan tidak bisa ke sekolah,
bermain, belajar seperti teman-temannya yang lain.
Bu Wirna tidak
bisa menangis lagi. Ia dan suaminya saat itu berada dalam puncak kepasrahan
kepada Allah. Tidak ada tempat bergantung lagi. Bukan kepada dokter Alex, bukan
kepada perawat-perawat yang luar biiasa dedikasinya selama merawat Fida. Tidak
ada satu makhlukpun yang bisa menjadi sandaran lagi bagi bu Wirna dan suaminya
selain hanya kepada Allah saja.
* * *
Bengkulu, Desember 2021